Tag

,


kedai kopiDikutip dari Jakarta, CNN Indonesia — Di sebuah kedai kopi Old Spike Roastery di Peckham, London, seorang perempuan bernama Lucy membuat kopi dengan tekstur rasa yang halus. Lucy adalah pegawai pertama Old Spike, yang mewakili misi kedai tersebut untuk menyediakan kopi dengan hati nurani.

Para pendiri kedai Old Spike Roastery bertemu dengannya ketika dia menjual majalah The Big Issue di luar stasiun London Bridge, tiga tahun setelah dia tiba dari Rumania. Untuk berkomunikasi, mereka menggunakan aplikasi Google Translate. Mereka lalu mengajarkan Lucy berbahasa Inggris, dan memberikan pelatihan dengan Rob Dunne, ahli kopi pemilik kedai kopi DunneFrankowski.

Salah seorang pendiri kedai kopi Old Spike Roaster, Richard Robinson, mengatakan, kopi adalah mitra yang baik untuk melakukan kegiatan sosial.

“Kopi adalah pilihan yang tepat sebagai kendaraan kami untuk membantu masyarakat tunawisma. Kami dapat menyediakan lapangan kerja bagi mereka, misalnya dengan menjadi koki,” ujar Robinson.

Dia mengatakan, itu berarti mereka bisa membantu lebih banyak orang, dan memberikan lebih banyak lapangan kerja, perumahan, dan membuat perubahan dalam hidup mereka.

Old Spike adalah perusahaan yang tidak menarik keuntungan. Perusahaan seperti sudah cukup banyak di kota London, salah satunya Paper and Cup di Shoreditch yang memberikan pelatihan barista bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang yang sembuh dari kecanduan.

Lalu ada Red Route Cafe di Clapton. Kafe di mana Lindsay Lohan pernah menjadi sukarelawan ini, membantu orang untuk mengembangkan keterampilan dalam segala tentang makanan dan minuman, dari urusan administrasi sampai memanggang kue.

Demikian pula dengan Trew Era Cafe di Hoxton. Kafe milik Russell Brand ini menawarkan kesempatan kepada orang-orang dalam rehabilitasi, kafe ini dibiayai dari keuntungan buku Russell yang berjudul Revolution, seperti dikutip dari laman Inggris, Standard.

Lebih lanjut tentang Old Spike, rekan bisnis Robinson, Cemel Ezel, memiliki ide untuk Old Spike ketika dia mengunjungi kedai teh di Vietnam yang dijalankan oleh perempuan-perempuan tulis dan bisu.

Ezel juga mengatakan, dia juga mendapatkan ide dari kedai-kedai kopi di New York di mana biji kopi di panggang di tempat.

“Dengan memanggang biji kopi sendiri kami dapat mengontrol kualitas dari produk yang kami tawarkan, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bekerja untuk masyarakat tunawisma. Kami melatih staf kami untuk memanggang kopi.”