Tag

,


vanlentino-rossi-reutersDikutip dari Jakarta, CNN Indonesia — Musim Valentino Rossi tidak berakhir ketika melintasi garis finis MotoGP Valencia, Minggu (8/11). Musim ‘The Doctor’, julukan Rossi, di MotoGP 2015 sudah berakhir ketika pebalap asal Italia itu melewati tikungan ke-14 di lap ketujuh MotoGP Malaysia.

Rossi memang tampil impresif di GP Valencia dengan menyalip 21 pebalap di depannya untuk finis di posisi keempat. Namun, sejak awal meraih gelar juara dunia di Sirkuit Ricardo Tormo adalah misi yang nyaris mustahil bagi Rossi.

Mustahil karena Jorge Lorenzo bukan saja sedang dalam performa terbaiknya tetapi juga memulai balapan dari pole. Karenanya Rossi hanya bisa berharap nasib sial menimpa Lorenzo. Tetapi seperti kita ketahui itu tak terjadi.

Misi Rossi untuk menjadi juara MotoGP 2015 sebenarnya sudah berakhir di tiga detik tikungan ke-14 lap ketujuh MotoGP Malaysia. Tiga detik yang laknat.

Tiga detik itu adalah rentang waktu ketika Rossi menengok ke arah Marc Marquez untuk kali pertama di tikungan ke-14 Sirkuit Sepang hingga menendang pebalap Repsol Honda itu sampai terjatuh.

Tendangan yang membuat Rossi mendapatkan penalti tiga poin dan harus start dari posisi belakang di GP Valencia.

Segala usaha dilakukan Rossi. Berkelit di depan Race Director MotoGP, Mike Webb, hingga mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS).

Namun, usaha pebalap kelahiran Urbino, Italia, 16 Februari 1979, gagal membuahkan hasil. Di situasi seperti ini, nama besar Rossi pun tidak mampu menyelamatkannya dari sanksi.

Jadi Rookie Sesaat

Dengan pengalaman tampil di ajang balap sepeda motor Grand Prix sejak 1996, Rossi pantas untuk mengeluarkan tuduhan terhadap Marquez yang diklaimnya sengaja membantu Lorenzo dalam perebutan gelar juara dunia.

Hanya dengan melihat tayangan ulang balapan di GP Australia, Rossi langsung bisa mengatakan adanya konspirasi antara kedua pebalap Spanyol tersebut.

rosi keceweNamun, dengan pengalaman hampir 20 tahun pula, Rossi seharusnya tahu manuver yang dilakukannya terhadap Marquez di GP Malaysia tidak bisa dilakukan. Menghalangi laju pebalap lain dengan sengaja saja tidak diizinkan, apalagi menendang pebalap lain hingga terjatuh.

Dalam waktu tiga detik itu, Rossi terkesan sebagai pebalap rookie yang tidak bisa mengontrol emosinya. Bukan Rossi dengan sembilan gelar juara dunia. Bukan Rossi yang menyisir sirkuit dunia sejak 1996.

Mungkin Rossi tersadar dan kemudian menyesal. Entahlah. Tetapi sesudah kejadian itu Rossi yang biasanya meledak-ledak, lebih banyak terdiam dengan tatapan mata yang kosong. Seperti terus berhitung akan buyarnya peluang karena tendangan ke helm Marquez, juara dunia MotoGP 2013 dan 2014, itu.

Balas Dendam

Rossi tetap mendapatkan sambutan yang meriah ketika menunggangi motor M1 miliknya ke paddock Yamaha usai GP Valencia. Ratusan orang membentuk jalur dari parc ferme hingga paddock Yamaha untuk menyambut kedatangan Rossi.

Bagi sebagian besar penggemar MotoGP, Rossi merupakan juara sejati di MotoGP 2015. Pebalap yang kali terakhir merebut gelar juara dunia MotoGP pada 2009 itu tetap banjir dukungan, terutama di dunia maya.

Masa depan Rossi di ajang MotoGP hingga kini masih dalam tanda tanya. Meski masih memiliki kontrak satu tahun bersama Yamaha, mantan rider Ducati dan Repsol Honda itu belum menentukan masa depannya.

Mungkin mengundurkan diri mulai menggoda benaknya. Musim depan ia sudah berusia 37 tahun. Reflek dan fisik mulai menurun. Ia juga sudah tak butuh hiruk pikuk kontroversi. Gelar juara MotoGP sudah enam kali ia raih. Ketenaran ada. Uang berlimpah.

Kecuali tentu saja kalau ia ingin balas dendam. Bisa dipastikan publik MotoGP akan kembali melihatnya meliuk-liuk menyisir sirkuit balap mencoba menghapus kenangan tiga detik laknat di Sirkuit Sepang.