telkom150Jakarta – PT Telkom Tbk siap mengakuisisi salah satu perusahaan penyedia menara terbesar di Indonesia, PT Solusindo Kreasi Pratama (Indonesian Tower) dalam waktu dekat. Akuisisi akan dilakukan melalui anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel).

Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, menyebutkan telah tercapai kesepakatan conditional agreement antara anak usaha Telkom dengan pemilik Indonesian Tower, untuk mengakuisisi 80% kepemilikan saham di perusahaan itu.

Namun demikian, lanjut Rinaldi, proses transaksi masih tergantung kepada penyelesaian beberapa kondisi tertentu yang telah disepakati dan disesuaikan.

Hal itu dibenarkan Presdir Indonesian Tower Sakti Wahyu Trenggono saat dikonfirmasi. “Kami sudah tanda tangan kesepakatan. Sekarang tengah memasuki tahapan due dilligent,” ujarnya saat dihubungi detikINET, Kamis (20/8/2009).

Trenggono tak mau mengungkap nilai penjualan sahamnya yang dianggap sebagai bagian dari strategic partnership. Begitu pula VP Public & Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia. Menurutnya, nilai penjualan  belum bisa disampaikan karena masih dalam bentuk perjanjian bersyarat.

“Artinya beberapa bulan ke depan ada persyaratan yang harus dipenuhi dulu oleh kedua belah pihak. Jika transaksinya selesai tahun ini, pembelian rencananya akan memakai belanja modal tahun ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama Mitratel Bambang Subagyo mengungkapkan, dalam beberapa bulan ke depan, pihaknya bersama Indonesian Tower akan berupaya untuk memenuhi kondisi dan persyaratan yang ditetapkan dalam conditional agreement untuk dapat menyelesaikan transaksi itu.

Dalam  akuisisi ini, Mitratel menunjuk HSBC sebagai financial advisor dan Melli Darsa & Co sebagai legal advisor.

Langkah yang diambil Telkom dalam akuisisi ini akan memperkuat posisi Telkom Group mengingat menara adalah infrastruktur strategis bagi perusahaan berbasis teknologi,
informasi, dan komunikasi (TIK).

Eddy menambahkan, memiliki usaha menara akan menjanjikan dari sisi pendapatan karena harga yang berlaku di pasar lumayan kompetitif sehingga keuntungannya cukup baik.

“Telkom grup adalah pemain terbesar di Indonesia sehingga dari grup saja sudah banyak sekali menara yang diefisienkan sementara sewanya kembali ke anak perusahaan lagi. Belum lagi dari operator lain yang sudah ada dalam pengelolaan Indonesian Tower,” katanya.

Berdasarkan penelusuran, Indonesian Tower pada 2008 lalu memiliki 1816 unit menara
dengan jumlah co-lokasi mencapai 2429 unit. Di industri, nilai sewa satu menara jika diisi oleh empat operator mencapai Rp 2,1 miliar per bulan.

Jika dihitung dari jumlah menara milik Indonesian Tower tanpa co-lokasi atau 1816 menara, maka pendapatan perusahaan itu sebulan mencapai sekitar Rp 3,8 triliun.

Indonesian Tower sendiri memiliki unit bisnis penyedia perangkat Wimax. Sayangnya, dalam akuisisi yang dilakukan Mitratel, unit bisnis ini tidak diakuisisi. Padahal, Indonesian Tower salah satu perusahaan lokal yang berhak menyediakan perangkat Wimax seiring selesainya digelar tender Broadband Wireless Access (BWA) Juli lalu.