Jakarta – Salah satu paket investasi yang ditawarkan dalam Indonesia Infrastructure Summit adalah Palapa Ring. Apakah proyek ini cukup ‘seksi’ untuk menarik investor? Palapa Ring termasuk satu dari sepuluh proyek infrastruktur yang ditawarkan pemerintah dalam Indonesia Infrastructure Summit yang digelar di Jakarta Convention Center, Rabu (1/11/2006). Proyek itu merupakan pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik (untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku) dan satu back haul untuk menghubungkan semuanya. Palapa Ring akan mengubungkan 33 propinsi serta 40 kota/distrik. Panjang kabel bawah laut mencapai 35.280 km, sedangakan kabel in land mencapai 21.807 km. Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil memperkirakan proyek itu butuh investasi sebesar US$ 1,517 juta. Insentif Untuk menarik perhatian investor, pemerintah menawarkan insentif. Insentif itu berupa lisensi pemanfaatan spektrum, misalnya lisensi Sambungan Langsung Internasional dengan potential revenue Rp 150 miliar per tahun. Selain itu juga ditawarkan insentif berupa pengembangan proyek Universal Service Obligation dengan potential revenue Rp 500 milar. “Yang paling sedikit minta insentif, itu yang menang tender,” ujar Sofyan. Namun, Sofyan mengakui, jika masih kurang ‘seksi’ pemerintah bisa menambahkan insentif. “Kalau investor masih tidak tertarik, kami siap menambah insentif,” tuturnya. Khusus untuk investor yang masuk di area Sumatera dan Jawa Sofyan mengatakan tidak akan memberi insentif. Alasannya, daerah itu lebih menguntungkan dibanding daerah lain di kawasan timur Indonesia. Dirjen Pos dan Telekomunikasi, Basuki Yusuf Iskandar, mengatakan tender akan dibuka pada Oktober 2007. Sedangkan pembangunannya dilakukan mulai awal 2008 selama tiga tahun. Sebelum tender, mulai saat ini hingga September 2007, menurut Basuki akan dilakukan studi kelayakan. Basuki berpendapat proyek itu sudah cukup menguntungkan. “Itu IRR (Internal Rate of Return-red)-nya 21 persen kok,” tutur Basuki.