Jakarta – Pemerintah hanya akan mengizinkan kepemilikan saham asing maksimal 35% bagi perusahaan penyedia infrastruktur serat optik yang ikut serta dalam konsorsium pembangunan Palapa Ring. Pembangunan itu akan dimulai dengan pergelaran tender penyediaan infrastruktur jaringan telekomunikasi dan data berbasis serat optik pada awal 2007 mendatang. Tender proyek Palapa Ring itu membutuhkan investasi sekitar US$ 1,5 miliar untuk pembangunan infrastruktur di 460 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia selama periode 3-4 tahun. Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan A. Djalil berharap, pembangunan infrastruktur fiber optic itu bisa dilakukan dengan cara konsorsium domestik. “Itu kalau bisa. Asing kita harapkan hanya punya saham 35 persen saja di konsorsium ini,” ujarnya saat Open House Idul Fitri 1427 H di rumah dinasnya di Jakarta. Ia menegaskan, konsorsium akan terbuka untuk umum dan tak terbatas pada perusahaan telekomunikasi saja, meski investor domestik yang nantinya akan lebih diutamakan. “Dengan demikian maka akan lebih banyak lagi pemain di sektor telekomunikasi dalam negeri,” tuturnya. Namun, pemenang tender pembangunan fiber optic itu akan dipilih sebanyak 3-4 perusahaan saja. “Karena kalau terlalu banyak tidak akan menguntungkan siapa pun, tidak ada yang bikin uang. Kita juga akan tentukan harganya supaya nantinya tidak dimonopoli,” jelas Sofyan. Menkominfo mengatakan, sejauh ini sudah banyak investor domestik yang mencari informasi tentang segala persyaratan yang dibutuhkan, namun belum sampai pada tahap keputusan untuk berinvestasi. Ia juga menyatakan, pemerintah siap memberikan insentif tambahan selain penawaran lisensi Sambungan Langsung Internasional (SLI) pada para investor itu, demi memperlancar proyek pembangunan infrastruktur tersebut. Pemerintah, lanjutnya, juga akan menawarkan proyek itu pada ajang Indonesia Infrastructure Conference yang berlangsung pada 1-2 November 2006 ini. “Memorandum dokumennya sudah jadi, mudah-mudahan investor tertarik,” tandasnya. Nanti, setelah pembangunan di 460 kota dan kabupaten itu rampung tiga tahun kemudian, infrastruktur serat optik akan dihubungkan ke tiap rumah dan sekolah melalui akses telekomunikasi nirkabel pita lebar (BWA) dengan menggunakan teknologi Wimax