mnuh150Jakarta – Menkominfo Mohammad Nuh menyanggah kenaikan harga sembilan kali lipat dari harga dasar penawaran (reserved price) untuk lisensi broadband wireless access akan membuat tarif layanan pita lebar Wimax jadi mahal.

“Memang kenaikannya sembilan kali dari harga dasar, tapi sebenarnya masih lebih murah karena kurang dari sepuluh kali harga 3G. Jadi tidak masalah,” kata Nuh di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (16/7/2009)

Lagipula, lanjut dia, harga BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi itu bukan satu-satunya penentu harga dasar tarif Wimax untuk konsumen nantinya.

“Karena ada unsur teknologi yang ditawarkan. Di samping itu, kualitas manajemen perusahaan yang menggelar layanan pasti punya pertimbangan dalam menetapkan tarif konsumen,” jelas Nuh lebih lanjut.

Seperti diketahui, harga penawaran lelang frekuensi BWA yang berhasil dimenangkan peserta tender, melejit naik sembilan kali lipat dari harga dasar (reserved price) Rp 52,35 miliar untuk 15 zona yang dilelang.

Dengan demikian, total uang negara yang berhasil diraup pemerintah bisa dibilang hampir mencapai setengah triliun rupiah dari rentang frekuensi 30 MHz di pita lebar 2,3 GHz tersebut.

Lonjakan harga penawaran ini disayangkan Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) Indra Utoyo. Menurutnya, dengan mahalnya harga lisensi BWA, secara tidak langsung akan berimbas pada mahalnya tarif layanan internet pita lebar melalui teknologi tersebut.

“Kalau seperti itu, saya khawatir industri kreatif akan sulit berkembang. Karena industri kreatif berbasis TIK sangat tergantung pada konektivitas akses internet pita lebar,” sesal pria yang sehari-harinya juga menjabat sebagai CIO Telkom itu.