sby-senjata2850Jakarta – Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono tak memungkiri jika pemenuhan kebutuhan sarana pertahanan Indonesia dapat dikatakan hampir seluruhnya masih tergantung dari teknologi asing.

Pasalnya, lanjutnya, hal ini disebabkan potensi, tatanan dan perkembangan kemampuan industri nasional masih belum diberdayakan secara optimal dalam mendukung kebutuhan sarana pertahanan.

Padahal ketergantungan akan kebutuhan sarana pertahanan dari luar negeri dalam jangka panjang dapat menimbulkan permasalahan dan kerawanan terhadap kesiapan operasional TNI.

“Permasalahan dan kerawanan tersebut antara lain dapat menurunkan kesiapan faktor penangkal (detterent facto) dan kemandirian,” tuturnya dalam sambutannya di ajang semiloka ‘Revitalisasi Iptek Hankam Mendukung Kemandirian Industri Hankam’ yang berlangsung di Gedung BPPT, Jakarta, Kamis (16/7/2009).

Untuk itu, ia pun meminta kemitraan lintas sektoral untuk memperkuat sistem pertahanan Tanah Air. Yakni mulai dari industri, litbang dan perguruan tinggi, serta pihak TNI sendiri.

Coba menjawab ‘tantangan’ Menhan tersebut, pihak Kementrian Riset dan Teknologi yang diwakili oleh Teguh Rahardjo, Deputi Menteri Bidang Riptek Kementerian Ristek mengatakan pihaknya siap untuk mendukung habis-habisan sistem pertahanan Tanah Air dari sisi teknologi.

Sasaran utamanya, tentu saja untuk menggantikan peran teknologi asing yang telah kadung memonopoli sistem pertahanan Indonesia. “Lihat saja senjata-senjata (yang dipakai TNI) itu masih tergantung dari asing,” ujarnya di tempat yang sama.

Hanya saja, lanjut Teguh, pengalihan teknologi dari asing ke lokal ini tak akan mudah seperti membalikkan telapak tangan. “Ristek siap mengganti teknologi asing tersebut, tapi butuh waktu juga untuk riset dan tak bisa ditentukan berapa lamanya karena juga tergantung dari industri terkait,” pungkasnya.

Senjata Lokal

Salah satu industri pendukung daya tempur yang sampai saat ini sudah memberikan kontribusinya pada bidang persenjataan adalah PT Pindad. Perusahaan ini memang masih terbatas untuk memasok senjata ringan infanteri.

Namun yang patut diacungi jempol adalah proses manufakturingnya sudah 100% dilakukan oleh mereka, meski dengan masih melibatkan beberapa sub kontraktor untuk pembuatan beberapa komponen kecil serta bahan baku berupa logam dan plastik masih didatangkan dari luar negeri.

Sementara untuk senjata yang berat, kemampuan yang ada di PT Pindad masih belum memenuhi kebutuhan TNI. Di bidang amunisi dan bahan peledak misalnya, kemampuan manufakturing boleh saja sudah mereka miliki, namun sepenuhnya masih didukung bahan baku dari luar negeri.